Analisis Representasi Identitas Lukisan "presiden Juga" Melalui Pendekatan Sirkuit Budaya

Authors

  • Dinda Larasati Universitas Indraprasta PGRI Author
  • Muhammad Iqbal Qeis Universitas Indraprasta PGRI Author
  • Renanda Adhi Nugraha Universitas Indraprasta PGRI Author

DOI:

https://doi.org/10.30998/vh.v9i1.2465

Keywords:

Stuart Hall, Sirkuit Budaya, Presiden Juga, Lukisan, Identitas, Representasi

Abstract

Pada masa Orde Baru, karya kritis kerap dilarang, dan praktik pembatasan kebebasan berekspresi masih terlihat hingga kini, seperti pada pembatalan pameran lukisan Yos Suprapto pada akhir 2024. Lukisan, khususnya, sering digunakan untuk merepresentasikan isu-isu kontroversial seperti politik, namun karena beragamnya latar belakang penikmat, medium ini kerap menghadapi pembatasan dalam kebebasan berekspresi. Salah satu lukisan yang dianggap membawa isu politis adalah lukisan Presiden Juga karya Rohadi Cumik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lukisan Presiden Juga menggunakan pendekatan sirkuit budaya Stuart Hall dan teknik pengumpulan data berdasarkan metode kualitatif berupa studi literatur, observasi, dan wawancara. Kerangka sirkuit budaya digunakan untuk mengkaji karya secara sistematis melalui lima tahapan analisis yang saling berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lukisan Presiden Juga berfungsi sebagai medium kultural yang menghidupkan kembali pemaknaan sejarah Syafruddin Prawiranegara, sekaligus berperan dalam membentuk kesadaran identitas kebangsaan masyarakat Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga menegaskan pentingnya seni sebagai ruang kritik sosial dan sarana refleksi terhadap dinamika sejarah serta politik yang berkembang di masyarakat.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biographies

  • Dinda Larasati, Universitas Indraprasta PGRI

    Desain Komunikasi Visual

  • Muhammad Iqbal Qeis, Universitas Indraprasta PGRI

    Desain Komunikasi Visual

  • Renanda Adhi Nugraha, Universitas Indraprasta PGRI

    Desain Komunikasi Visual

References

Alit, D. M., Pramartha, N. B., Darman, T. Y., & Wika, N. L. (2021). Pemerintahan darurat republik Indonesia (PDRI) dalam gejolak revolusi fisik di Indonesia. Social Studies: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu-Ilmu Sosial, 9(1), 58–72.

Apandi, A., Cahyani, A. R., & Sari, F. R. (2025). Dinamika politik dan militer di Indonesia dalam konteks pemberontakan dan peralihan kekuasaan (1946-1965). Journal of Indonesian Social Studies Education, 3(1), 73–85.

Asnan, G. (2006). PDRI dalam penulisan sejarah Indonesia. 26.

Banindro, B. S. (2010). Tinjauan visual gambar uang kertas indonesia. Nirmana, 10(1), pp-12.

Banindro, B. S., & Rochman, M. F. (2017). Perancangan web media interaktif pembelajaran sejarah “Oeang Republik Indonesia”(Ori) 1945-1949 bagi generasi muda. IPTEK-KOM, 19(2), 1–15.

Erasiah, E. (2018). Tinjauan historiografi buku pemerintah darurat republik Indonesia (Pdri) karya Mestika Zed. Majalah Ilmiah Tabuah: Talimat, Budaya, Agama Dan Humaniora, 22(1), 29–42.

Fajri, A. (2025). Nagari silantai, sumpur kudus, kabupaten sijunjung: Saksi sejarah perjuangan

pembentukan pemerintahan darurat republik Indonesia (pdri). NAPAK TILAS: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Ilmu Sejarah, 1(1), 11–18.

Firmansyah, M., Masrun, & Yudha, I. D. K. (2021). Esensi perbedaan metode kualitatif dan kuantitatif. Elastisitas: Jurnal Ekonomi Pembangunan, 3(2), 156–159.

Gazali, M. (2017). Lukisan prasejarah gua leang-leang kabupaten Maros, Sulawesi Selatan: kajian simbol S.K. Langer. Imaji: Jurnal Seni Dan Pendidikan Seni, 15(1), 57–67.

Gozali, J., Jamaludin, B., & Simanjorang, H. (2024). Kondisi perekonomian di Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Marema: Journal of Economics, Business, and Management, 1(2), 135–143.

Hall, S. (1997). Representation: cultural representations and signifying practices. In S. Hall (Ed.), SAGE Publications. https://doi.org/10.5040/9781474206013.0012

Hilmatiar, M. H. K. (2015a). Konsep darurat negara dalam perspektif fiqh siyasah. Al-Mazahib, 3(2).

Hilmatiar, M. H. K. (2015b). Pembentukan pemerintahan darurat republik indonesia tahun 1948-1949 dalam perspektif fiqh siyasah dan hukum tata negara. Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum, 3(1).

Jalatarang, M. (2025). Selubung sebagai realitas semu dalam penciptaan karya seni lukis. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Karja, I. W. (2021). Makna warna. Bali-Dwipantara Waskita (Seminar Nasional Republik Seni Nusantara), 110–116. https://en.wikipedia.org/

Leve, A. M. (2012). The circuit of culture as a generative tool of contemporary analysis: Examining the construction of an education commodity. AARE APERA International Conference, 12. http://www.aare.edu.au/data/publications/2012/Leve12.pdf

Lianto, J., & Suryaputra, R. (2012). The impact of redenomination in Indonesia from Indonesian citizens’ perspective. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 40, 1–6.

Maulana, F., Yunus, P. P., Padillah, R., Febrian, M. F., & Makawi, F. E. (2024). Kritik seni karya Affandi Koesoema berjudul three expressions. Journal of Arts Education and Design, 1(1), 1–8.

Nafi, M. M. (2021). Kajian representasi: Foto budaya Ponorogo karya Oki Cahyo Nugroho. Specta: Journal of Photography, Arts, and Media, X. http://digilib.isi.ac.id/8796/4/M. MAHYAYA NAFI%27_2021_NASKAH PUBLIKASI.pdf

Nugraha, F. A. (2016). Provokasi visual dalam lukisan. Invensi, 1(1), 37–49.

Nurdini, N., widya Wardani, W. G., & Saptodewo, F. (2018). Implementasi warna pada sampul buku cerita bergambar legenda Ciujung dan Ciberang. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya, 1(01), 69–77.

Perkasa, A. F. M. H., Margaretha, M., Rafy, M. N., Hanifah, E. I. N., Wahyuningrum, D. K., Lutfira, O., Fachrizal, M. S. A., & Fuqoha, M. R. I. (2023). Keberanian dan kritikan dalam lukisan Presiden R.I. TH. 2001 Suhardi. Jurnal Kultur, 2(2), 101–107.

Prayudi, & Fachdar, R. A. (2023). Menelisik kebebasan berkesenian dalam tinjauan yuridis. Vifada Assumption Jurnal Of Law, 1(2), 30–37.

Rahmawati, M. (2020). Makna bendera merah putih bagi generasi muda: Tinjauan sejarah dari masa kerajaan Majapahit. Chronologia: Journal of History Education, 2(1), 36–45.

Rukiah, Y. (2015). Makna warna pada wajah wayang golek. Jurnal Desain, 2(03), 183–194.

Semiawan, C. R. (2010). Metode penelitian kualitatif. Grasindo.

Silaban, R. S. (2015). Peranan Syafruddin Prawiranegara dalam lintas sejarah pemerintahan Republik Indonesia (1945-1961).

Sriyanto. (2019). Peranan dakwah mr. Sjafruddin Prawiranegara dalam menyelamatkan republik. Jurnal Ilmu Dakwah, 39(1), 45–56.

Susanto, A. A. (2017). Fotografi adalah seni: sanggahan terhadap analisis roger scruton mengenai keabsahan nilai seni dari sebuah Foto. Journal of Urban Society’s Arts, 4(1), 49–60. https://doi.org/10.24821/jousa.v4i1.1484

Undri. (2015). Sejarah komandemen Sumatera di provinsi Sumatera Barat (1945-1949). Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 1(2), 317174.

UU No 39 Tahun 1999 Tentang HAM, Pub. L. No. 39, Komnas HAM 1 (1999).

Varlina, V., & Apriansyah, M. I. (2025). Analisis visual dan wacana kritis lukisan’konoha 1’Yos Suprapto: simbolisme ketimpangan kekuasaan di Indonesia. Journal of Computer Science and Visual Communication Design, 10(1), 24–40.

Wijaya, M. I., Isjoni, I., & Tugiman. (2017). Peran Sjafruddin Prawiranegara dalam mempertahankan kedaulatan NKRI dari agresi militer Belanda II di Riau, tahun 1948-1949. Riau University.

Zulkarnain, N., Qoviva, N., Nomory, A., Rozikha, Z., Agustin, A., & Oktamiranda, R. (2025). Nagari halaban dalam sejarah PDRI: Jejak perjuangan dan kontribusi terhadap kedaulatan republik Indonesia. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(04), 220–228.

Downloads

Published

2026-09-30

How to Cite

Larasati, D., Qeis, M. I., & Nugraha, R. A. (2026). Analisis Representasi Identitas Lukisan "presiden Juga" Melalui Pendekatan Sirkuit Budaya. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya, 9(1), 102-115. https://doi.org/10.30998/vh.v9i1.2465