Kajian Nilai Budaya Upacara Adat Larung Sembonyo di Pantai Prigi Trenggalek
DOI:
https://doi.org/10.30998/xq752689Keywords:
Nilai budaya, Upacara Adat, Larung Sembonyo, TrenggalekAbstract
Mitos masyarakat Prigi mengenai asal-usul terbentuknya kawasan Pantai Prigi menjadi latar belakang munculnya tradisi upacara Larung Sembonyo. Meskipun mayoritas masyarakat Prigi beragama Islam, tradisi ini tetap dipertahankan karena diyakini mampu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan semesta. Oleh karena itu, masyarakat merasa kurang tenteram apabila upacara Larung Sembonyo tidak dilaksanakan sebagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam pelaksanaannya, upacara ini juga diiringi berbagai pertunjukan seni tradisional, seperti Jaranan, Wayang Kulit, dan Tayub. Kehadiran kesenian tersebut memiliki makna serta fungsi yang berkaitan erat dengan kehidupan sosial budaya masyarakat pesisir Prigi, Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah budaya dan prosesi pelaksanaan Larung Sembonyo serta mengidentifikasi nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Larung Sembonyo mencakup aspek sejarah, lokasi, waktu, pelaku, alur prosesi, serta berbagai jenis sesaji. Tradisi ini mengandung nilai religius, estetika, moral, sosial, edukatif, dan demokratis sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas kesejahteraan dan hasil panen yang diperoleh.
Downloads
References
Adirasa, E. S. (2024). Semiotika Simbol – Simbol Pada Arsitektur Masjid Agung Jamik Kota Malang (Perspektif Teori The Power Of Symbols F.W. Dillistone) [Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang]. http://etheses.uin-malang.ac.id/67475/2/220204210004.pdf
Anissa, K. M. (2020). Makna Simbol Dalam Tradisi Lelang Tembak Di Desa Seri Dalam Kabupaten Ogan Ilir. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH .
EB. Tylor. (2001). Dekonstruksi Kebenaran, Kritik Tujuh Teori Tentang Agama, terjemah Ali NurZaman. Al-Kalam.
Koentjaraningrat. (1997). Kebudayaan Mentalitas. Gramedia.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.
Relin D.E. (2022). Makna Teologi Sesaji Tradisi Ruwatan Desa Pada Masyarakat Jawa Di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Jurnal Penjaminan Mutu, 8(1), 20–37. https://doi.org/10.25078/jpm.v8i1.760
Santosa, H. D. (2013). Apitan: Pelestarian Tradisi Agraris Lokal Masyarakat Jawa. Lensa, 3(2).
Sarinah. (2019). Ilmu Sosial Budaya Dasar (di Perguruan Tinggi). Deepublish.
Siregar, F. R. (2018). Nilai-Nilai Budaya Sekolah dalam Pembinaan Aktivitas Keagamaan Siswa SD IT Bunayya Padangsidimpuan. Jurnal Kajian Gender Dan Anak, 1(1). https://doi.org/10.24952/gender.v1i1.777
Soewito. (2024). Larung Sembonyo, Shaman, interview on 14 April 2024 at his home, Kebon, Tasikmadu, Watulimo, Trenggalek.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Tukan, L. J. P. (2024). Makna Simbolis Dalam Upacara Adat Blatan Wi`I Tebon Suku Tana Ai Desa Nebe, Kabupaten Sikka. Seminar Nasional Teknologi, Kearifan Lokal Dan Pendidikan Transformatif (SNTEKAD), 1(1), 139–146. https://doi.org/10.12928/sntekad.v1i1.15707
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Restu H.Magh'firoh

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.






