Kajian Nilai Budaya Upacara Adat Larung Sembonyo di Pantai Prigi Trenggalek
DOI:
https://doi.org/10.30998/vh.v9i1.1124Keywords:
Trenggalek, Larung Sembonyo, Upacara adat, KebudayaanAbstract
Mitos masyarakat Prigi tentang terbentuknya kawasan Pantai Prigi merupakan asal mula upacara Larung Sembonyo. Masyarakat Prigi hampir seluruhnya beragama Islam, namun mereka merasa kurang tenteram jika meninggalkan tradisi dan upacara Larung Sembonyo yang diyakini dapat menjaga keseimbangan dengan alam sekitar dan semesta. Setiap penyelenggaraan Sembonyo pasti menggelar kesenian Jaranan, Wayang Kulit dan kesenian Tayub. Kehadiran kesenian tersebut memiliki makna dan fungsi yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat pesisir Prigi Kabupaten Trenggalek. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mengetahui sejarah budaya dan prosesi Larung Sembonyo; dan 2) mengetahui nilai-nilai budaya yang ada di Larung Sembonyo. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis diawali dengan reduksi data, penyajian, kemudian penarikan simpulan. Lokasi penelitian berada di Kawasan Pantai Prigi, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Hasil penelitian ini mengungkap bentuk penyajian Ritual Adat Larung Sembonyo yang meliputi sejarah, lokasi, waktu, pelaku, alur, sesaji. Upacara Adat Larung Sembonyo merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang mengandung nilai-nilai luhur. Nilai-nilai tersebut meliputi: nilai religi, nilai estetika, nilai moral, nilai sosial, nilai edukasi, nilai demokrasi. Ritual Adat Larung Sembonyo dilatarbelakangi oleh rasa syukur masyarakat atas hasil panen, kesejahteraan, kesehatan, dan kedamaian yang diterima.
Downloads
References
Adirasa, E. S. (2024). Semiotika Simbol – Simbol Pada Arsitektur Masjid Agung Jamik Kota Malang (Perspektif Teori The Power Of Symbols F.W. Dillistone) [Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang]. http://etheses.uin-malang.ac.id/67475/2/220204210004.pdf
Anissa, K. M. (2020). Makna Simbol Dalam Tradisi Lelang Tembak Di Desa Seri Dalam Kabupaten Ogan Ilir. Universitas Islam Negeri Raden Fatah .
EB.Tylor. (2001). Dekonstruksi Kebenaran, Kritik Tujuh Teori Tentang Agama, terjemah Ali NurZaman. Al-Kalam.
Koentjaraningrat. (1997). Kebudayaan Mentalitas. Gramedia.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.
Relin D.E. (2022). Makna Teologi Sesaji Tradisi Ruwatan Desa Pada Masyarakat Jawa Di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Jurnal Penjaminan Mutu, 8(1), 20–37. https://doi.org/10.25078/jpm.v8i1.760
Santosa, H. D. (2013). Apitan: Pelestarian Tradisi Agraris Lokal Masyarakat Jawa. Lensa, 3(2).
Sarinah. (2019). Ilmu Sosial Budaya Dasar (di Perguruan Tinggi). Deepublish.
Siregar, F. R. (2018). Nilai-Nilai Budaya Sekolah dalam Pembinaan Aktivitas Keagamaan Siswa SD IT Bunayya Padangsidimpuan. Jurnal Kajian Gender Dan Anak, 1(1). https://doi.org/10.24952/gender.v1i1.777
Soewito. (2024). Larung Sembonyo, Shaman, interview on 14 April 2024 at his home, Kebon, Tasikmadu, Watulimo, Trenggalek.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Tukan, L. J. P. (2024). Makna Simbolis Dalam Upacara Adat Blatan Wi`I Tebon Suku Tana Ai Desa Nebe, Kabupaten Sikka. Seminar Nasional Teknologi, Kearifan Lokal Dan Pendidikan Transformatif (SNTEKAD), 1(1), 139–146. https://doi.org/10.12928/sntekad.v1i1.15707
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Restu H.Magh'firoh

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.






