Fungsi, Suluk, Gendhing, dan Sendon Sastra Lisan Wayang Topeng Malang
DOI:
https://doi.org/10.30998/w10w2c43Keywords:
Gending, Sastra Lisan, Sendon, Suluk, Wayang Topeng MalanganAbstract
Pertunjukkan tradisional sebagai sebuah seni pertunjukkan menghadapi tantangan berupa beralihnya selera dan perhatian masyarakat modern menuju budaya visual yang menyebabkan degradasi pemahaman terhadap nilai inti dari pertunjukkan Wayang Topeng Malang, dan keberadaan suluk, gending, dan sendon dianggap sebagai pelengkap atau pendukung pertunjukan semata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, struktur dan fungsi tradisi lisan pada Wayang Topeng di Malang serta menelusuri jalan yang ditempuh oleh para pelaku Seni wayang topeng ultimate mempertahankan tradisi wayang topeng di era modern pertengahan. Sisi sastra lisan yang ada pada struktur Wayang Topeng tidak hanya bersifat suportif tetapi juga menjadi inti, di mana melalui inti tersebut dapat mencerminkan nilai estetika, kerohanian dan kearifan lokal milik masyarakat. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang identifikasi dan analisis unsur verbal yaitu: suluk, gending dan sendon dalam konstruksi pertunjukan wayang topeng, serta pemahaman fungsi simbolik dan budaya dari narasi lisan yang dibawakan oleh dalang dan sinden, untuk memahami hal tersebut kemudian digunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu wawancara semi terstruktur dengan dalang, sinden online dan pemain seni pertunjukan Wayang Topeng. Analisis data menggunakan reduksi data, tampilan/penarikan data dan penghentian firasat awal dikonfirmasi dengan triangulasi & pengecekan member. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat struktur naratif yang kompleks dalam sastra lisan pada pertunjukan topeng wayang dan bersifat performatif. Saat ini teks apa pun ditransmisikan secara aural dengan improvisasi juga dan sejak saat itu dipinjam untuk ingatan kolektif dan rasa para dalang teater. Topeng wayang ini merupakan gaya tutur yang menunjukkan fungsi estetik dan musikalitas dari lagu tersebut, sedangkan fungsi simbolisnya menghadirkan nilai-nilai kosmologis dan spiritual seperti yang terdapat pada budaya masyarakat Malang. Warisan tradisional dipertahankan melalui praktik pewarisan eksentrik, penulisan ulang materi naratif, dan konfigurasi ulang untuk khalayak kontemporer. Kontribusi penelitian ini akan memperkaya kajian sastra lisan dan berkontribusi pada strategi pelestarian budaya lokal melalui; Seni Pertunjukan Tradisional, dan berimplikasi pada pembelajaran bahasa Indonesia sebagai materi ajar kearifan lokal untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap nilai-nilai kosmologis Nusantara.
Downloads
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Syaqila Nazwa Agustia, Sony Sukmawan (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.






